Surat Tak Berdasar

Kumelangkah gontai menuju tempat parkir…. “Ana….” sapanya. Ku hanya tersenyum membalasnya. Fiuh ! napas berat kubuang. Tak biasanya dia menyapaku, aku bergumam.
Di rumah.
“Assalamualaikum…”
“Walaikumsalam, gimana An ujian terakhirmu ?” tanya ibu.
“Sukses Bu…. tinggal nunggu pengumaman.”. “jangan lupa tetap berdoa ya….Ibu pun tak putus-putus selalu mendoakan kesuksesanmu”, aku tersenyum. “Gi, buruan ganti seragammu, lalu makan siang.”
Brug ! kulemparkan tubuhku ke tempat tidur. Hore… ujian selesai ! sorakku. Setelah berganti pakaian aku pun siap tuk menge-pak buku-buku pelajaranku. Memilahnya, merapikan, dan menyimpannya dengan rapi, setelah 4 hari berserakan disana sini.
Setengah jam sudah aku berkutat dengan debu dan tumpukan buku, tiba-tiba mataku tertegun oleh sepucuk surat. Kubuka perlahan….. desiran getir hati ini memuncak.
~oOo~
“An, maafkan aku… maaf aku tak bisa membalasnya. Maaf aku tak bisa memberimu apa-apa. Aku hanya bisa mengucapkan terimakasih. Kau sungguh baik, aku tidak pernah menemui orang sepertimu. Tapi…….Ah ! Maaf An…. maafkan aku Ana……….”
Sakit ! Tiba-tiba ada dorongan kuat di dada ini. Tangisku meledak. Bodoh…..bodohnya aku ini………
“Ana coba pikir realita… ayo berfikir !!!” Sari mengguncang-guncangkan tubuhku.
“masih banyak yang lain….. lihat dia ! dia tak peduli denganmu, mengapa kamu harus peduli dengannya. Jangan kau siksa dirimu.”
Aku memang menaruh perhatian padanya, namun apa aku pernah langsung menyatakan padanya? TIDAK ! tidak pernah. Hanya sebatas teman-teman yang mengatakan padanya ketika melihat sebuah siratan perasaan itu di wajahku. Aku terus tersedu, hingga, “Ana…. makan siang !” suara ibu membuyarkan kilasan pahit itu.
“Iya..Bu….!” jawabku.
Hh ! Aku tidak peduli lagi dengan itu semua. Kuhentikan bayangan perasaan yang terus berkecamuk dalam hati dan pikiranku.
~oOo~
Ddddoorrrr ! Sari mengagetkanku. “Wow… cantik sekali. Ambil berkas aja pake dandan segala. Mau kondangan kemana….?”
Pppakk ! Sebuah pukulan mendarat di pundak Sari. “Kondangan ? biasa ja kali ya….. lha wong orang cuma pake rok aja kok dikira mau pergi kondangan.”
“Gak gitu-gitu amat sih… tapi suer deh ! Lu cantik banget !”
Aku hanya tersenyum. “Hahahahha….. masak ? kapan kamu ke sana ?” Khrisna berlalu sambil tertawa-tawa dengan asyiknya dengan Ida, sekilas tatapannya mengarah padaku, namun segera dibuangnya jauh-jauh.
“Bbbsstt…bbssttt ! Lu masih mikirin dia ?”, “nggak koq…nyantai ja”, “tau nggak sekarang Khrisna jalan ma siapa ?”, aku menggeleng. “Baru lagi cuy ! dia sekarang ma Ita ! bayangin bok !”, “Oh… ma Ita nak kelas 2 itu toh ? ckckckc……baru lagi, baru lagi.” Jawabku geleng-geleng. “Beda banget ya waktu dia kelas 1 dulu. Khrisna yang ramah, dan apa adanya. Gak kayak sekarang….. jaim, jutek !”, “Hus ! udah ah, ngapain kok kita jadi ngomongin orang, buruan ke TU-nya.”, “Nyok….mari non…”
~oOo~
Aku asyik terpaku melihat anak-anak bermain sepak bola. Tiba-tiba, “sendirian ?” Khrisna…desisku pelan. Aku hanya tersenyum. Terasa kaku kehadirannya. “Ehm, jadi nglanjutin ke Surabaya ?”, “Heem jadi. Aku pulang kampung. Kan aku asli sana.” Diam sejenak. Perasaan itu tiba-tiba muncul kembali. Kami terasa dekat setelah beberapa bulan berjauhan satu sama lain. Namun, “Khris… gimana nanti jadi les ke Pak Soni ?” Ida menghampiri kami berdua. “Jadi, gimana Tuti dia juga bisa kan ?” jawab Khrisna sambil berlalu meninggalkanku. Sendiri, tanpa sepatah kata apapun. Dia pun tak menatap mata lawan bicaranya, layaknya orang berbicara. Dingin.
Sejak dia pindah ke kelas itu, aku pun turut senang. Dia tak lagi terkontaminasi oleh anak-anak bengal di kelas lamanya. Ida sahabat baikku, dia selalu datang padaku dengan kekesalannya. Kekesalannya dengan sifat Khrisna yang kekanak-kanakan. Ya, itulah sifat Khrisna pada awalnya, kekanak-kanakan, ingin diperhatikan. Namun dia tetap menjadi dirinya sendiri.
Waktu pun terus bergulir. Perubahan itu tampak. Dia menjadi sok dewasa, ingin diakui, ia juga ingin membuktikan pada teman-temannya, bahwa dia bisa seperti mereka. Dibalik perubahannya, dia belum siap dengan itu semua. Dia masih dalam proses pencarian jati diri. Dia ingin diakui, diperhatikan. Pernah kudapati Ida dan Khrisna bersama. Mereka sangat intim. Bertengkar bersama, tertawa bersama, terlibat pembicaraan yang serius. Mereka cocok, pikirku. Pikirku, yang berusaha menutupi kekalutan hati.
Akhirnya tak terbendung. Jatuh juga air mata ini. Sebagai sahabat, aku tak keberatan dengan itu semua. Hm, dasar manusia, tetap tak bisa membohongi hatinya sendiri. Sakit. Sakit.
~oOo~
“Ana, Ibu doakan kamu dapat diterima di UGM ya…. kami semua mendukungmu.”
“Benar Ana, kami semua mengharapkan kamu dapat diterima di sana, membawa nama baik sekolahan kita.”
“Amien….Amien. Amien Bu…. terima kasih atas semua doa dan dukungannya. Sekarang kita hanya bisa berdoa, Tuhan yang menentukan.”
“Iya….Ibu juga berharap kamu dapat yang terbaik.”, “Semoga kamu dapat pacar di sana… hehehhe” Bu Ayu menggodaku. Aku hanya tersenyum tersipu.
Sepanjang perjalanan pulang aku termenung. Semua kudapatkan, prestasi, kepercayaan, sahabat, keluarga bahagia, kecuali satu sebuah cinta masa putih abu-abu. Aku tersenyum getir. Cinta ? Aku tak sepandai teman-temanku dalam bergaul. Apalagi dengan seorang laki-laki. Hingga saat itu datang. Dia menawarkan sesuatu yang lebih. Sama-sama dalam sebuah kepolosan, namun indah dan bermakna. Kini semua tinggal kenangan.
Hhhhh… aku hanya menghela napas. Inilah aku, pikirku. Aku mendongakkan kepala. Terlihat pintu gerbang rumahku.
“Mas Surya ?” Aku kaget bercampur senang.
“Gimana dik kabarnya ? baik ?”
“Baik mas… mana mbak Dina ?” kepalaku celingak-celinguk mencari.
“Dia ndak ikut, di rumah. Coba tebak kenapa ?” Aku menggeleng. “Bentar lagi kamu jadi tante.”. Aku terbelalak. “Wah… Selamat ya mas Surya….”
“Sudah-sudah… sana ganti baju dulu. Nanti diteruskan lagi ceritanya.” Ibu menghampiri kami dengan setoples kastengel dan teh jasmine di nampan. Aku pun bergegas pergi ke kamar, ganti baju, dan segera berbaur dengan keluargaku.
~oOo~
“Hati-hati Ya….”, “Jangan lupa ke sini lagi sama mbak Dina…..” Aku dan Ibu melambaikan tangan mengantar kepulangan Mas Surya.
“Nggak nyangka ya An, mereka bisa bersatu seperti sekarang. Sejak SMA mereka sudah berjodoh.”
“Iya Bu….mereka serasi, cocok sekali, sebuah keluarga idaman”, Ibu mengangguk.
“Dah malam, segera tidur dan istirahat ya.” Ibu mengecup keningku.
Dalam pembaringan, suara-suara itu kembali bergema. Ana coba pikir realita… ayo berfikir !!! masih banyak yang lain….. lihat dia ! dia tak peduli denganmu, mengapa kamu harus peduli dengannya. Jangan kau siksa dirimu………….”
“tau nggak sekarang Khrisna jalan ma siapa……….”
“kami semua mengharapkan kamu dapat diterima di sana, membawa nama baik sekolahan kita…………..”
“Sejak SMA mereka sudah berjodoh……………”
Kuambil bantal, kututupi wajahku. Aku berteriak sekuat-kuatnya. Air mataku deras mengucur….. Sakit. Kenapa ? Aku ini kenapa ?
Sayup doa malam mulai menghilang, digantikan jengkerik dan kesunyian yang senyap, tanda malam semakin larut. Aku yang masih meringkuk di bawah selimut, kedinginan. Mataku sembab oleh air mata. Kaku. Membatu.
Entah kekuatan apa yang mendorongku. Aku bangkit, menyalakan lampu belajar. Tangan ini mengambil secarik kertas. Pulpen ini tiba-tiba mulai menari. Menggoreskan barisan tulisan ungkapan hati, menumpahkan segala sakit yang terus membayangiku.
25 Maret 2011-Hari ini aku tahu akan satu hal, yaitu percuma aku menggantungkan sebuah perasaan tak mendasar dan tak menentu. Semua sia-sia seiring berjalannya waktu. Kenyataan itu sudah di depan mataku berulang-ulang. Namun, mata hatiku senantiasa dibutakan oleh sebuah pengharapan. Pengharapan akan pembalasan sebuah perasaan yang mungkin disebut “cinta”. Huh ! Bedebah dengan itu semua.
Bukankah engkau hanya menjadi pijakannya sesaat ? bukankah engkau hanya dijadikan pelariannya saat dia belum atau sedang mencari mangsa baru ? Bukankah ia hanya menganggapmu sebagai teman ?
Percuma engkau meneteskan air mata untuknya…. percuma kau buang waktu kosongmu untuk menghadirkannya dalam lamunanmu..
Hhhhfff……
Engkau memang tak pernah mengukapkan perasaanmu secara langsung. Tapi sorot mata, tingkah laku dan ucapanmu menyiratkan isi hatimu. Sebuah perasaan lama yang tak mendasar… Mungkin bagi orang lain itu hanya lelucon, sebuah guyonan yang tak berarti. Tapi, lihat ! Engkau menanggapinya dengan berlebihan. Dan tumbuhlah sebuah harapan itu. Harapan yang dibangun di atas kerapuhan sebuah perasaan.
Dia pernah berkata padamu… bahwa kau adalah seorang yang sangat lebih, sehingga tak pantas dia menjadi “teman spesialmu”. Oke ! Engkau menerimanya…dan perlahan berusaha menghapus perasaan itu. Dia pun begitu…dengan segala kelebihannya, dia berusaha mencari teman kesendiriannya.
Di saat dia terluka, atau bahkan sendiri… dia juga tak segan berbagi dengamu. Sehingga engkau semakin sulit menghilangkan perasaan itu. Hm ! Namun….
Dia berubah…!! Semakin ganas mencari seseorang yang benar-benar dapat menemaninya dalam kesendirian. Dia semakin gencar dalam upaya menemukan jati dirinya sendiri. Dan engkau tahu ! Bahkan teman dekatmu akhirnya bertekuk lutut oleh pikatan manisnya.
Engkau kembali meneteskan air mata percumamu itu ! Engkau sakit hati, ternyata teman dekatmu yang dulu pernah “mendukungmu”, sekarang “menusukmu” dengan menjadi “teman spesialnya” hhhhmmmm……
Please ! Sadar..! Dia tak sedikitpun memandangmu. Dia asyik menggembara mencari srikandi-srikandinya. Srikandi yang dapat menerimanya sebagai seorang Arjuna.
Lepas….Hilangkanlah ! Tak ada gunanya kau memikirkannya ! Apa untungnya ? Toh dia sudah menempuh jalan yang dia pilih. Pandang ke depan ! masih banyak yang harus kau raih di depan sana…
Cita, Angan, impian, Masa depan, kebahagiaan…. Masih banyak yang lebih baik daripada dia ! Come On ! Sadar ! Ayo !
Semoga ini menjadi yang terakhir aku mengucapkan, “Aku lepas dia….Aku kubur dia, Aku tahu ada yang lebih baik dari dia. Tuhan sudah mempersiapkan yang lain…” Semoga tak ada air mata Sia-sia yang menetes, semoga bayangan akan sosoknya segera menghilang. Dan dengan setulus hati dapat menjadi temannya ! Tak lain ! Tak Lebih ! Dan tak kurang……
Catatan Akhir Sekolah, dengan segala kelebihan dan kekuranganku…… Hanya sebuah tulisan tak lebih. Hanya sebuah coretan tak lebih. Aku hanya menulis tak lebih…tak mengharap apapun !Aku tahu ini semua akan terhapus dengan segera. Aku pun tak peduli dianggap apa….. Ini hanya sekedar coretan di atas debu yang akan hilang dengan segera diterpa angin. Sebuah Surat tak berdasar, ditulis di atas pikiran, bukan sebuah perasaan.
~oOo~
Kicau burung membangunkan tidurku. Ternyata aku tertidur di meja belajar semalam. Tersisa air mata yang mengering di sebuah tulisan di atas kertas. Surat tak berdasar gumamku. Tak ada dasar aku menulisnya. Itu hanya luapan, saking lamanya aku membendungnya. Tak ada dasar untuk menyimpannya. Tak ada dasar tuk kembali memikirkannya. Kurobek-robek kertas itu dan membuangnya.
Aku bangkit dan membuka jendela. Kuhirup udara pagi yang sejuk. Kulihat sinar matahari yang mulai merayap di sela dedaunan. Aku tersenyum. Aku percaya aku akan dapat lebih dari itu semua. Masa depan yang menjajikan telah datang. Aku harus segera menyambutnya. Aku tak boleh terpaku oleh sebuah perasaan yang meragu dan tak tentu.
Biarlah itu semua menjadi kenangan yang kan terekam dalam jejak hidupku. Biarlah itu semua menjadi sebuah bagian dari cerita abu-abuku. Sebuah Cinta Monyet. Polos, namun bermakna.



















